2 Negara ASEAN yang Populer di Kalangan Turis Mengeluarkan Peringatan Gelombang Panas

Di tengah popularitas destinasi wisata di kawasan ASEAN, dua negara yang paling banyak dikunjungi, Malaysia dan Thailand, baru-baru ini mengeluarkan peringatan terkait gelombang panas ekstrem. Peringatan ini ditujukan kepada para wisatawan yang merencanakan perjalanan ke kedua negara tersebut, mengingat kondisi cuaca yang dapat membahayakan kesehatan.
Gelombang Panas di Malaysia dan Thailand
Dua negara ini, yang dikenal sebagai magnet bagi wisatawan, telah menghadapi tantangan serius akibat gelombang panas yang tak terduga. Peringatan darurat dikeluarkan seiring dengan meningkatnya suhu yang dapat berisiko bagi kesehatan, terutama bagi wisatawan yang mungkin tidak familiar dengan cuaca ekstrem ini.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Otoritas kesehatan di kedua negara tersebut menekankan pentingnya bagi turis untuk membatasi kegiatan fisik di luar ruangan. Paparan sinar matahari yang berkepanjangan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius, termasuk heat stroke, yang dapat berakibat fatal.
Hingga awal Mei 2026, Malaysia mencatat dua kematian tragis akibat kondisi ini, serta 56 kasus penyakit terkait cuaca panas. Data menunjukkan bahwa sekitar 58 persen dari kasus tersebut disebabkan oleh aktivitas fisik yang dilakukan di bawah sinar matahari yang terik.
Kasus Kematian yang Mengkhawatirkan
Salah satu dari dua kematian tersebut melibatkan seorang balita berusia dua tahun yang tertinggal di dalam kendaraan, menyoroti betapa berbahayanya situasi ini. Di sisi lain, seorang pria berusia 42 tahun juga kehilangan nyawa saat berpartisipasi dalam lari maraton di Pulau Penang. Kasus-kasus ini menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan pada suhu yang ekstrem.
Suhu yang Mencengangkan di Destinasi Wisata
Titik-titik wisata utama di Malaysia, seperti Pulau Penang, telah mencatat suhu yang mencapai 37 derajat Celsius. Dalam menghadapi kondisi ini, otoritas setempat telah mengimbau wisatawan untuk secara rutin mengonsumsi air mineral dan menghindari paparan langsung sinar matahari pada siang hari.
Kondisi di Thailand yang Lebih Parah
Sementara itu, situasi di Thailand terbilang lebih memprihatinkan. Pada 4 Mei, indeks panas di ibu kota, Bangkok, melampaui 52 derajat Celsius, yang telah dikategorikan sebagai kondisi “bahaya ekstrem”. Peringatan ini dikeluarkan oleh Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA), yang juga mengingatkan akan risiko tinggi penyakit terkait panas yang dapat membahayakan nyawa.
- Indeks panas di Bangkok mencapai 52 derajat Celsius.
- Pemerintah telah mendirikan lebih dari 300 titik ruang pelarian panas.
- Wisatawan disarankan untuk tetap berada di dalam ruangan.
- Gejala heat stroke meliputi pusing dan detak jantung yang cepat.
- Berhati-hatilah saat beraktivitas di luar ruangan selama gelombang panas.
Kunjungan Wisata yang Meningkat
Gelombang panas ini datang pada saat yang tidak tepat, karena kedua negara tersebut baru saja mencatat angka kunjungan wisata yang sangat mengesankan di awal tahun 2026. Malaysia tetap menjadi negara dengan jumlah pengunjung terbanyak di Asia Tenggara, dengan 10,6 juta turis yang datang pada kuartal pertama tahun ini, meningkat sebesar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Thailand di Posisi Kedua
Di sisi lain, Thailand mengikuti di posisi kedua dengan 9,3 juta kunjungan. Meskipun angka ini menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, situasi cuaca yang ekstrem dapat mempengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung.
Dengan peringatan gelombang panas yang dikeluarkan oleh kedua negara ini, diharapkan para wisatawan dapat lebih berhati-hati dan menjaga kesehatan mereka saat menjelajahi keindahan alam dan budaya yang ditawarkan oleh Malaysia dan Thailand. Dalam keadaan yang sulit ini, kesadaran akan risiko kesehatan menjadi kunci untuk menikmati liburan yang aman dan menyenangkan.